Catatan Hati Seorang Santri
Pondok Pesantren Darussalam Ciamis, disinilah
awalku memulai perjalanan di sebuah pesantren yang cukup terkenal di daerah
Ciamis. Tepatnya tanggal 01 Juli 2013, aku resmi meninggalkan rumah, dan
memutuskan untuk bersekolah di pondok ini. Suasana sangat ramai, banyak santri
baru yang menurutku asing wajahnya, yah memang asing karena aku belum pernah
melihat mereka sebelumnya. Koper dan beberapa tas pun aku bawa menuju sebuah
asrama yang bertuliskan “Dewi Sartika”, disanalah tempat aku tinggal untuk satu
tahun ke depan. Ruangan yang cukup besar untuk menampung santri baru. Setelah
mengelilingi seluruh ruangan asrama itu, kakiku terhenti di sebuah kamar yang
bertuliskan “Kamar 1” dan disana kujumpai sebuah nama “Ira Rahmaulia”.
Barangpun aku angkut menuju kamar itu, tempat aku tidur dan menghanyutkan
sebuah mimpi. Setelah aku selesai menata rapi pakaianku, santri baru penghuni
kamar itupun mulai berdatangan satu persatu, jumlahnya kurang lebih delapan
orang. Akupun tak ragu mengulurkan tangan untuk berkenalan dengan mereka.
Hari pun telah berganti, keesokan harinya aku
mempersiapkan diri untuk mengikuti TASSALAM (Ta’aruf Santri Darussalam) yang
berlangsung pada tanggal 02-06 Juli 2013. Disanalah tempat aku untuk mencari
teman lebih banyak lagi. Seminggu telah berlalu, tapi rasa rindu akan keluarga
dan kampung halaman masih menghantui. Banyak santri yang selalu mengalirkan air matanya
setiap malam, hanya karena ia rindu akan keluarga. Dan pada tanggal 08 Juli
2013, inilah hari pertamaku memakai baju “Putih Abu”, yah di sekolah baruku MAN
DARUSSALAM, dan aku melihat namaku terpampang di selembar kertas di depan pintu
kelas X-A. Kelas baru, dengan teman-teman yang baru juga. Bangga rasanya
menjadi siswa SMA yang sekolah sambil mondok, memang harus bangga, jarang
sekali remaja yang ingin menghabiskan masa mudanya di pondok yang penuh dengan
aturan . Sebulan telah berlalu, melewati hari pertama puasa di pondok. Berbeda
sekali suasananya, indah namun kadang rindu akan suasana rumah. Santri-santri
yang masih terbuai dalam mimpi pun terpaksa dibangunkan untuk sholat tarawih
tengah malam. Rasa kantuk selalu menghampiri saat sholat, terkadang ada
beberapa santri yang melanjutkan mimpinya ketika sholat. Dua minggu melewati
bulan suci di pondok, akhirnya libur lebaranpun telah tiba. Inilah yang
ditunggu para santri, yah walaupun ngantri mengambil surat izin semangat pulang
ke rumah tetap menggebu.
Masa aktif liburan pun telah habis, saatnya
kembali ke pondok. Malas ! Itu kata yang selalu ada di pikiranku. Rasanya setan
itu memegangi kakiku, berat sekali untuk melangkahkan kaki ke pondok. Berkat
dorongan dari orang tua dan terutama dari diri sendiri, akhirnya aku berangkat
ke pondok.
Singkat cerita, UTS pun telah berlalu, UAS dan
Ujian Pesantren pun telah dijalani, satu semester aku telah menetap di pondok
ini, dan kini saatnya pulang ke kampung halaman membawa raport sekolah dan
pesantren dengan hasil yang lumayan memuaskan. Dan mulai semester ini para
santri haram untuk membawa handphone. Yah pertama kali juga pulang naik
angkutan umum, penuhnya bukan main, panas, berdesak-desakan, bau, pengap, oh
sungguh terasa sempitnya dunia ini.
Liburan semesterpun hanya berlangsung dua
minggu, belum puas, yah kata itu yang selalu terlontar dari mulutku. Tapi ya
apa boleh buat, ini aturan yang akan memberikan sanksi pada pelanggarnya.
Tepatnya tanggal 05 Januari 2013, aku kembali ke pondok. Selesei membereskan
pakaian dan yang lainnya, baru saja aku merebahkan tubuhku di lantai, tiba-tiba
Nadwatul Ummahpun menggaung, suara di speaker itu seakan memecahkan gendang
telingaku sekaligus mencopotkan jantungku. Betapa tidak? Inilah kata-kata yang
kudengar saat itu “Innalillahi wainna ilaihi roji’un, telah berpulang ke
rahmatulloh Ade Cartawan kelas X-A, kepada seluruh santri putra dan putri agar
segera menuju gedung Nadwatul Ummah sekarang juga”. Teman satu kelas sekaligus
satu daerah denganku, baru saja meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya
karena kecelakaan. Ya Alloh, kenapa orang sholeh seperti dia Kau ambil lebih
cepat? Aku akan kehilangan sosok yang periang, semangat, pantang menyerah dan
sangat baik. Nadwatul Ummah pun dipenuhi tangis yang menggetarkan sanubari
melihat sosok seorang Ade yang sudah terbujur kaku, dengan sedikit bercak darah
di dekat hidung. Tubuhnya sudah ditutupi kain, kini ia tak berdaya, tak bisa
apa-apa. Selamat jalan kawan, semoga kau tenang disana hanya do’a yang bisa
kami berikan.
Hari demi hari berganti, kelas pun sangat sepi
tanpa seorang sosok Ade, bangku tempat duduknya diam membisu, berdebu, kotor
tak ada sosok yang selalu mengusapnya setiap hari. Tapi yah inilah hidup, harus
tetap berjalan dan harus dijalani. Setelah kehilangan sosok Ade, ada murid baru
di kelasku, sebut saja namanya Ilham. Mmm sedikit pendiam, tapi ada ciri
khasnya, dia selalu terlihat lucu dengan logat Bahasa Jawanya. Yah, lumayan
biasa mencairkan suasana kelas yang membeku. Walaupun tak sehangat saat ada
Ade, sahabat selamanya, itu yang selalu kami ucapkan.
Tidak terasa waktu UTS pun telah datang, dan
itupun dijalani dengan apa adanya. Dan
pada tanggal 16 Mei 2014, aku beserta teman dari pramuka berangkat ke Cianjur
utusan dari pondok untuk melaksanakan P4 (Perkemahan Pramuka Pondok Pesantren)
ke-II Jawa Barat. Wow ini perjuangan. Hidup di tenda selama satu minggu, dengan
udara yang lumayan menusuk tulang, lelah tapi pengalamannya sangat luar biasa.
Banyak teman dari berbagai pondok pesantren di daerah Jawa Barat, walaupun
harus ketinggalan pelajaran selama satu minggu, yah ini resiko. Tak lama dari itu UAS dan Ujian Pesantren pun
telah menanti. Seperti biasanya, dijalani dengan penuh perjuangan. Setelah itu
pengarahan penjurusan pun dilaksanakan, dan tanpa ragu lagi aku mengisi
formulir secara online kemudian aku memilih jurusan IPA, yah memang itu yang
aku inginkan. Sampai pada akhirnya waktu libur semesterpun telah tiba. Inilah
yang menentukan, naikkah aku ke kelas XI atau tetap tinggal di kelas X?
Bersamaan dengan hari pembagian raport, SATAP (Silaturahmi Akhir Tahun Ajaran
Pesantren) pun dilaksanakan. Sedih pasti, harus kehilangan kakak dan adik kelas
yang sudah akrab. Dan pada hari ini juga merupakan moment yang paling special,
setelah beberapa minggu latihan bersama guru yang lumayan lucu, sebut saja Pak
Eman, akhirnya paduan suara Qadhisia Group ditampilkan di acara SATAP. Bangga
pasti, soalnya ini pertama kali aku tampil di hadapan umum.
Libur semesterpun tiba lagi, saatnya aku kembali
ke rumah. Perjalanan satu tahun di pondok telah ku tempuh dengan penuh suka dan
duka. Seperti biasa liburanpun hanya berjalan dua minggu. Dan pada tanggal 06
Juli 2014 inilah saatnya kembali ke Darussalam, setelah melewati satu minggu
puasa. Setibanya di Darussalam, wajah-wajah barupun kembali hadir. Tak ada yang
ku kenal, oh ternyata mereka santri baru kelas X dan kelas VII. Dua minggu
lamanya menjalankan puasa di pondok, suasananya mulai menghangat, tak seperti
pertama kali aku menjalankan puasa disini. Mungkin, kebiasaanlah yang sudah
merubah semuanya.
Dan pada tanggal 13 Juli 2013, saatnya pulang
lagi ke rumah, yah benar libur lebaran. Inilah saat yang paling ditunggu
“Lebaran”. Mmm masa aktif libur lebaranpun telah habis. Saatnya kembali ke
pondok menjalankan aktifitas belajar seperti biasanya, huh benar-benar lelah
saat melihat kalender tak ada tanggal merah. Yah waktupun berjalan dengan
biasanya, saatnya libur lagi. Libur Idul Adha. Walaupun hanya dua hari, yah
lumayan yang penting bisa merasakan nikmatnya hari raya bersama keluarga. Meski
ketika datang disambut dengan UTS dari tanggal 06-11 Oktober, inilah rutinitas
yang selalu dijalani. Inilah catatanku selama di Darussalam, tepatnya baru 1
tahun 4 bulan aku mondok. Terimakasih Ranah Damaiku atas semua yang telah kau
berikan, aku yakin ini adalah kenangan yang sulit untuk kulupakan sampai akhir
hayatku, yah masa-masa menjadi santri di Darussalam.

Komentar
Posting Komentar