Secercah Lembayung di Tepian Asa
Secercah Lembayung di Tepian Asa
Kesendirian ini
menuntutku untuk berjalan menyusuri
lorong malam yang sunyi dan gelap. Pandanganku hanya tertuju pada langit malam
yang tua dan mulai kusam. Bintang-bintang yang bertaburan menghiasi malam pun
mulai hilang tertutup oleh sunyinya malam ini. Cahaya rembulan berkilau begitu
indah, seakan ia ingin menemani seorang insan yang sedang termenung seorang
diri. Memikirkan masa-masa yang akan segera di hadapi, kemana ku harus
melangkah? Lampu taman yang mulai suram menambah suasana menjadi mencekam,
nyanyian burung hantu yang semakin jelas terdengar membuat bulu-bulu di
pundakku berdiri. Merenung, yah itu yang sedang ku lakukan saat ini
. “De Ilya, ngapain kamu malam-malam disini?”, suara yang tidak terdengar
aneh di telinga itu membuatku terhenyak dari lamunan yang panjang. “Eh Mas
Robi, ini Mas nyari angin saja, bosen di rumah terus”, sahutku pada laki-laki
itu. “Angin malam gak baik lho, yuk kita pulang saja, Ibumu kasihan tuh di
rumah nungguin”, pintanya sedikit memaksaku. “Iya Mas, mari”, aku mulai
berjalan mendekatinya, berdua menyusuri jalanan kota Garut yang masih ramai
oleh kendaraan yang hilir-mudik memenuhi jalanan. Tak ada percakapan sedikitpun
yang aku keluarkan ketika kami berjalan, hanya siulan angin yang terdengar.
Sampailah di suatu rumah yang sederhana di pinggiran kota Garut, rumah yang
tidak terlalu kecil, arsitektur bangunannya masih mengikuti alur jaman dulu,
selalu terlihat rapi dan bersih. Namun, terpancar cahaya kehangatan dari dalam
rumah itu. Ya, itu rumahku. Rumah yang selama duapuluh tiga tahun ini kutempati
bersama Bapak, Ibu dan Adikku. Bapakku hanya seorang satpam di sebuah
perusahaan swasta, Ibuku hanya seorang pembuat dodol, sedangkan kedua Adik
kembarku dia masih sekolah di kelas tiga SD. “Assalamu’alaikum”, sahutku dari
luar rumah. “Wa’alaikumsalam, Ilya habis darimana kamu nak? Sama siapa kamu
pulang?” tanya ibuku panik. “Ilya habis nyari angin Bu, ini diantar sama Mas
Robi”, jawabku sembari menyalami tangan Ibu, kebiasaan yang tak pernah ku
tinggalkan. “Eh nak Robi, masuk dulu nak, ayo kita makan malam dulu, makasih
lho udah nganterin Ilya pulang”. “Tidak
usah repot-repot Bu, saya sudah makan. Iya Bu sama-sama, ini cuman kebetulan
saja saya lewat depan taman, eh ketemu Ilya, yasudah saya antar dia pulang.
Saya permisi dulu ya Bu, sudah malam, salamkan saja ya sama Bapak dan si
kembar. Assalamu’alaikum”, ucap Mas Robi dengan sopan. “Wa’alaikumsalam”, jawab
aku dan Ibu serempak. Bayangan Mas Robi pun mulai hilang dari pandanganku, aku
dan Ibu segera masuk ke dalam rumah, angin malam mulai menyelusup ke
tulang-tulang kami, kabut malam pun mulai menebal, menandakan malam semakin
larut.
***
Sayup-sayup suara adzan shubuh terdengar di telingaku, mata ini
seakan enggan untuk terbuka, dinginnya pagi pun selalu menyuruhku untuk tetap
terhanyut dalam buaian alam mimpi, tapi aku tetap memaksakan untuk bangun
melaksanakan shalat subuh, ini adalah kewajibanku sebagai seorang muslim.
Kuambil air wudhu di belakang rumah, selepas itu aku sholat subuh berjama’ah
bersama Ibu dan dua Adik kembarku. Sedangkan Bapak, ia selalu melaksanakan
sholat berjama’ah di mushola dekat rumah, rutinitas yang tak pernah ia
tinggalkan. Selepas sholat subuh aku dan kedua Adik kembarku selalu membantu Ibu
menyelesaikan pekerjaan rumah, meyiapkan sarapan pagi untuk Bapak, karena ia selalu berangkat pagi sekali.
Setelah Bapak dan Adikku pergi, tinggallah hanya aku dan Ibu. Ibu mulai membuka
percakapan denganku pagi ini, sembari membuat dodol pesanan tetangga sebelah.
“Ya, masa tiap hari kamu mau seperti ini bantuin Ibu buat dodol? Ibu sekolahin
kamu jauh-jauh itu pengen kamu jadi orang nak. Ibu gamau kamu menderita seperti
Ibu”, sambil menyiapkan bahan-bahan yang akan digunakan. Aku termenung sejenak,
mencermati kata-kata Ibu. “Ibu malu punya anak lulusan Yogya koq jadi tukang
dodol”, Ibu melanjutkan pembicaraannya sambil
menatapku kecewa. “Bukannya Ilya gak mau kerja Bu, tapi Ilya masih
bingung mau kerja dimana. Gapapa toh jadi tukang dodol juga, yang penting usaha
kita halal sama maju. Ilya juga gamau Bu nganggur kaya gini terus, tapi kita
harus tetap bersyukur atas apa yang Allah berikan, Ilya yakin Bu suatu saat
nanti Ilya akan menjadi seperti yang Ibu inginkan”, ucapku dengan lirih.
“Yasudahlah terserah kamu saja. Kalau kamu ngangur terus, mendingan kamu nikah
saja. Kayanya Robi suka sama kamu. Ibu juga setuju kalau kamu nikah sama dia,
orangnya sopan, baik, pinter, sholeh, dari keluarga terpandang lagi”, melirik
ke arahku seolah menggoda. Memang Mas Robi termasuk orang yang paling tajir di
kampungku, ia sendiri sebagai pengusaha dodol termuda di Garut, tokonya cukup
besar bahkan sudah memiliki beberapa cabang, bahkan aku pernah ditawari untuk
membuka toko oleh Mas Robi, tapi aku menolaknya, aku tidak ingin terlihat matre
di depan Mas Robi. Lamunanku terperanjat ketika nama Mas Robi disebut. “Ah Ibu,
Ilya nganggap Mas Robi itu seperti kakak Ilya sendiri. Lagian Ilya nggak cinta
Bu sama Mas Robi”, jawabku sambil tertunduk. Memang dua minggu yang lalu Mas
Robi pernah menyatakan bahwa ia suka kepadaku, bahkan ia ingin mengkhitbahku.
Tapi aku belum memberikan keputusan, aku
hanya menganggap dia sebagai kakak, tak lebih. Benih-benih cinta itu
tidak tumbuh di dasar jiwaku, ruang hampa ini masih terisi oleh Mas Yusuf,
sahabat Mas Robi sekaligus kekasihku dulu. Dia meninnggal dalam kecelakaan
kereta api dua tahun silam saat aku masih kuliah. Ah sudahlah, itu hanya
kenangan, aku tak ingin lama-lama terhanyut dalam kesedihan, aku harus bangkit,
aku harus bisa menata masa depan yang cerah.
Sore itu Mas Robi datang ke rumahku, dia meminta ijin kepada Ibu
untuk mengajakku pergi keluar, Ibu pun mengijinkan, karena ia sangat percaya
kepada Mas Robi .”Bu, Ilyanya saya bawa pergi dulu ya, saya janji sebelum
magrib Ilya sudah di rumah.” Kami pun berpamitan kepada Ibu. Mas Robi langsung
menghidupkan motornya, aku pun pergi berboncengan bersamanya. Ia mengajakku ke
tempat yang tak asing lagi bahkan sering ku kunjungi dulu. Tempat ini sering ku
kunjungi bersama Mas Yusuf, tempat yang penuh dengan kenangan masalalu. “Mas
ngapain kamu ajak aku ke tempat ini?”. Mas Robi hanya tersenyum ia menjawab
dengan santai “De, tak ingatkah kau kalau Mas ini teman baik Mas Yusuf?”. Aku
terdiam, diam, betul-betul diam. “Iya aku tahu Mas, lalu apa hubungannya Mas?”
tanyaku tak mengerti. “De, Yusuf pernah menitipkanmu pada Mas, dia ingin Mas
jaga Ilya, sayangi Ilya, lindungi Ilya. Sekarang mas mau nagih jawaban Ilya,
apakah Ilya sudah siap di khitbah mas Robi?”. Ya Allah, apa aku harus menjawabnya
sekarang? Aku benar-benar tidak mencintai Mas Robi. Apa yang harus ku katakan
padanya? “Mas apa harus secepat ini aku menjawabnya? Apa ini tidak terlalu
tergesa-gesa? Mas kan bisa nunggu satu atau dua tahun lagi, Ilya juga belum
jadi orang sukses Mas”, aku tertunduk dari pandangannya. “Lebih cepat lebih
baik kan, tak usah menunggu lama. Mas tahu kalo Ilya belum cinta sama Mas, tapi
lambat laun cinta itu akan tumbuh di hatimu. Tak usah menunggu sukses, Ilya
bisa kan sukses bareng Mas?”, kata-katanya sedikit memaksa. ”Mmm entahlah Mas,
nanti Ilya pikir-pikir dulu, sekarang antarkan saja Ilya pulang, Ilya tak ingin
mengingat kembali kenangan-kenangan indah bersama Mas Yusuf disini”. “Yasudah,
Mas antar pulang, Mas mau nungguin sampai kapan ajah Ilya siap jawabnya”. Aku
hanya tersenyum, ya senyuman yang sedikit ku paksakan.
Malam harinya, seusai sholat maghrib, aku masih berdiam di kamar.
Diluar kamar terdengar ramai sekali, seperti suara Bu Salma dan Pak Rudi, Mas
Robi juga, mau apa mereka ramai-ramai datang kemari? Apa Mas Robi mau menagih
janjiku? Seketika itu jantungku berdebar sangat kencang, bagai petir yang
menyambar di siang bolong, tiba-tiba ibu masuk ke dalam kamar. “Ilya ayo keluar,
dandan yang cantik, temui keluarga Pak Rudi”, Ibu tersenyum sambil keluar
menuju pintu. Aku hanya tersenyum, bingung, apa yang harus ku katakan? Haruskah
aku menolaknya atau menerimanya? Ya Allah bantu aku. Aku segera berdandan,
memoleskan bedak dan sedikit lipstik. Aku keluar dari kamar dengan langkah yang gontai, aku duduk di
pinggir Ibu, mereka memandangku sangat lekat, kedua mata mereka terus
mengikutiku. “Wah Ilya sudah besar yah, cantik lagi”, puji Bu Salma. Aku hanya
tersenyum, aku tak tahu harus bagaimana, aku benar-benar gugup. “Nah begini
saja ya Pak Hasan, Bu Lina, langsung saja ke intinya ya. Mungkin kalian heran,
ada apa ini ramai-ramai ke rumah? Nah maksud dari kedatangan kami kesini itu
hendak meminangkan Ilya untuk Robi. Maaf kalo kami tidak memberi tahu terlebih
dahulu, karena ini mendadak. Robi baru membicarakannya tadi sore. Apakah bapak
mengizinkan Ilya untuk Robi khitbah?” tanya Pak Rudi kepada bapak. Bapak
terdiam, pandangannya melirik ke arah Ibu. Ibu hanya tersenyum, memberi kode
kepada Bapak. Sorot mata Bapak pun akhirnya tiba di kornea mataku, pandangan
yang penuh dengan harapan, akupun hanya tertunduk, tak berani mengangkat kepala
sedikitpun. “Kalau saya sama Ibu sih setuju-setuju saja, justru saya senang
bisa besanan bersama keluarga Bapak, tapi keputusan terakhirnya ada di tangan
anak saya, dia yang akan menentukan yang terbaik untuk hidupnya”. Semuanya terdiam,
dan akhirnya pertanyaan itu terlontar juga dari mulut Pak Rudi, “Ilya apakah
lamaran kami kau terima?”. Semua mata sekarang memandang ke arahku. Seolah-olah
aku ini seorang terdakwa. Hatiku berkecamuk, aku bingung benar-benar bingung.
Mata Bapak dan Ibu memancarkan sebuah pengharapan yang sangat dalam, begitu
juga Mas Robi. Aku sendiri terdiam, Tuhan aku mohon tunjukan jalan yang terbaik
untukku. Aku ingin melihat Bapak, Ibu dan kedua Adikku bahagia, aku ingin
sekali membahagiakan mereka, membuat mereka tersenyum setiap hari, membuat
mereka bangga mempunyaiku. Tapi disisi lain, aku yang harus terluka. Aku harus
mengorbankan perasaanku sendiri, bagaimana jadinya jika aku harus menikah
dengan orang yang benar-benar tidak kucintai? Aku merenung dalam-dalam,
membulatkan keputusannku. Suasana benar-benar tegang, seperti sedang menunggu
keputusan dari hakim. Dengan suara lirih aku menjawab, “Bismillahirrohmaanirrohim,
saya terima khitbah dari Mas Robi. Insyaalloh saya siap menjadi istri untuk Mas
Robi”, bersamaan dengan itu, air matapun jatuh membasahi pipiku. Benar-benar
haru, aku memutuskan sesuatu yang paling aku benci. Ya Allah semoga keputusan
ini baik untukku, semoga aku bisa mencintai Mas Robi seperti aku mencintai Mas
Yusuf. “Alhamdulillah” semua serempak mengucap syukur, tawa kebahagian
terpancar dari binar mata Bapak dan Ibu. Akupun ikut tersenyum, bahagia melihat
raut wajah yang mulai keriput itu tersenyum bahagia. “Nah sekarang kita
tentukan hari pernikahannya saja. Bagaimana kalau bulan depan Pak? Biar gak di
tunda-tunda gituh, kasian kan Robi udah ngebet nih, haha” goda Pak Rudi melirik
Mas Robi. “Ah bapak bisa saja” Mas Robi tersipu malu. “Baiklah pak, lebih cepat
kan lebih baik”, Bapak menambahkan pembicaraannya. “Yasudah kalo begitu, mari
pak, bu kita makan malam bersama dulu, anggap saja makan malam ini sebagai
syukuran atas pertunangan anak kita” Ibu tersenyum bahagia. “Ilya, ayo bantu Ibu
menyiapkan makanan di meja”. Aku langsung permisi dan pergi ke meja makan,
menata piring dan gelas. Sedangkan Bapak dan keluarga Pak Rudi masih
berbicang-bincang di ruang tengah. Sesekali terdengar percakapan dan tawa
bahagia diantara mereka. Tanpa aku sadari, sejak tadi Mas Robi memperhatikanku,
matanya memancarkan sinar kepuasan, puas karena aku sebentar lagi menjadi
miliknya. Ah benar-benar licik, gerutu ku dalam hati, dia puas karena akan
menikah dengan orang yang dia cintai, sedangkan aku? Aku harus mengorbankan
perasaanku sendiri. Benar-benar tidak adil. Setelah semua makanan siap, kami
semua makan malam dalam satu meja, suasana yang benar-benar tidak aku sukai, terpaksa
aku harus duduk bersampingan dengan laki-laki yang tidak kucintai dan sebentar
lagi akan menjadi suamiku. Aku selalu berharap bahwa orang disisiku ini Mas
Yusuf, tapi itu hanya cerita masalalu yang kelam.
***
Dua minggu setelah acara pertunangan. Di pagi ini mentari
tersenyum, memanggil bunga-bunga yang masih tertidur lelap, kicauan burung ikut
menari-nari di birunya langit pagi. Pemandangan yang begitu indah. Sawah
membentang tak bertepi, padi-padi mulai menguning. Aku berjalan di pematang
sawah yang ditumbuhi rerumputan. Sesekali jilbabku tertiup hembusan angin pagi,
oh benar-benar indah ciptaan-Mu Tuhan. Disuguhi panorama yang memanjakkan mata,
aku duduk diantara rerumputan, kakiku pun basah terkena embun yang masih
menempel pada dedaunan. Tiba-tiba saja seseorang di belakang mengagetkanku “Hai
Ilya ngapain pagi-pagi disini?” menepuk pundakku sangat keras, “Duh Tut kamu
ini mengagetkanku saja, kamu gak pernah berubah yah dari dulu sampai sekarang
bisanya jailin orang terus. Mmm aku kangen tempat ini Tut, dulu setiap minggu
aku sama Mas Yusuf kan sering kesini”. Tuti adalah temanku sejak kecil, dialah
yang selama ini tahu tentang konflik batin yang sedang ku hadapi. “Lah kamu ini
gimana sih Ya? Sekarang jangan mikirin orang yang udah gak ada Ya. Lihatlah
orang yang ada di depanmu sekarang, orang yang benar-benar tulus sayang sama
kamu. Kamu jangan terus-terusan seperti ini, dua minggu lagi kan kamu nikah.
Aku yakin kok Mas Yusuf disana pasti bahagia kalau melihat kamu bahagia juga.
Tak ada satupun keputusan Tuhan yang tak baik Ilya, aku yakin ini memang yang
terbaik buat kamu”, nasihat Tuti kepadaku. Akupun langsung memeluknya, menangis
dalam pelukannya. “Astagfirulloh, aku benar-benar khilaf Tut. Aku selalu
mementingkan egoku sendiri, makasih Tut cuman kamu satu-satunya orang yang
mengerti keadaanku saat ini”, akupun terus terisak. “Sudah Ya, sudah. Aku tahu
kok bagaimana perasaanmu. Jangan nangis lagi dong, calon pengantin jangan
nangis nanti cantiknya hilang, senyum dong hehe”, godanya sambil menyeka air
mata di pipiku dengan kerudingnya. Aku pun bangkit dari pelukannya, tersenyum
pada wajah itu, ya wajah sahabat yang begitu tulus mendengarkan semua
problematika kehidupan yang ku hadapi. Terimakasih Tut, aku bahagia mempunyai
sahabat sepertimu.
***
Dua minggu telah berlalu, undangan telah tersebar kemana-mana,
persiapan pernikahan memang benar-benar sudah sempurna. Kini tiba saatnya pada
hari yang paling di tunggu-tunggu, Ya hari pernikahanku. Aku benar-benar sedih
saat ini, bagaimana tidak? Pernikahan adalah acara sakral, yang ingin aku
lakukan sekali seumur hidup saja. Mulai detik ini, setelah Mas Robi mengucapkan
lafal ijab qabul aku sudah bukan tanggungan Bapak dan Ibu lagi, aku sudah sah
menjadi milik Mas Robi, calon Ibu bagi anak-anakku nanti. Aku harus mandiri,
aku harus dewasa, aku harus bisa menjadi wanita yang tegar. Tapi sampai
pernikahan ini berlangsung, mengapa belum tumbuh sedikitpun rasa di hatiku Ya
Allah? Aku benar-benar kejam. Buat apa aku berjilbab, sholat, mengaji,
berpuasa, kalau aku sendiri tidak bisa menghormati dan mencintai suamiku
sendiri? Ampuni aku Ya Allah, mulai detik ini aku akan belajar mencintai Mas
Robi dengan sungguh-sungguh.
Sore hari setelah acara pernikahan selesai, Mas Robi pingsan seusai
dia mandi. Aku panik bukan main, kami segera membawa Mas Robi ke rumah sakit
umum kota Garut. Dia dimasukkan ke ruang UGD. Aku khawatir benar-benar
khawatir. Ya Allah apa perasaanku mulai tumbuh? Rasa takut kehilangan semakin
menggebu, aku tak ingin kehilangan orang yang menyayangiku untuk kedua kalinya.
Setelah dokter selesai memeriksa Mas Robi, dokter itu keluar dari ruang UGD dan
menghampir kami yang sedang menunggu di kursi dekat ruangan itu. “Keluarga Pak
Robi”, panggil dokter itu. “Ya kami keluarganya Pak. Sebenarnya apa yang
terjadi pada anak saya Pak?” tanya Pak Rudi seikit tegang. “Pak Robi menderita kanker
paru-paru stadium empat. Bapak terlambat membawa ia kesini, kankernya sudah
benar-benar parah. Sekarang hanya tinggal menunggu waktu dan keajaiba dari
Tuhan saja Pak. Bersabarlah ak. Silahkan sekarang Bapak bisa menemui beliau”.
Kami semua benar-benar kaget mendengar pernyataan dokter tersebut, termasuk
aku. Kami segera menemui Mas Robi di ruang UGD. Aku benar-benar terpukul
melihatnya. Selang terpasang dimana-mana, wajah ceria yang selama ini selalu
dia persembahkan untukku sekarang menjadi pucat pasi, lemah tak berdaya. “Mas
Robi”, aku langsung lari memeluknya. Dia memelukku kembali dengan pelukan yang
lemah. “Mas maafin Ilya, Ilya janji Mas Ilya akan jadi istri yang solehah buat
Mas, Ilya sekarang sudah bisa mencintai Mas, Mas jangan tinggalin Ilya, Ilya
janji Mas Ilya janji asal Mas harus sembuh”, aku terus menangis di pelukannya.
“Alhamdulillah kalau Ilya sudah bisa mencintai Mas, tapi maaf mas tidak bisa menemani
Ilya lebih lama, tidak bisa membuat Ilya bahagia. Maafkan aku Pak, Bu, Ilya,
aku harus pergi. Allah sudah memanggilku lebih dulu. Allah sayang sama Robi. De
Ilya, ini ada surat untukmu, Mas menulisnya sehari sebelum pernikahan kita. Mas
harap Ilya mau membacanya ya”, suara itu kian melemah bahkan hampir tidak ada.
“Asyhaduallailaahaillalloh, waasyhaduannmuhammadarrosululloh”, mata indah
itupun terpejam, bibir itu kini tertutup, ada senyuman kebahagiaan yang tampak
dari wajahnya, tak ada lagi tanda-tanda kehidupan yang nampak darinya. Aku
hanya terisak menangis, lemah, yah benar-benar lemah. Kini tubuh itu terkujur
kaku, sebentar lagi akan tertutup kain putih yang membelenggu tubuhnya,
tertimbun tanah, berada dalam suatu lubang yang gelap, sunyi, sepi, sendiri.
Hanya amal baik yang selalu setia mendampinginya di ruangan yang sunyi itu.
Setelah acara pemakaman selesai, aku teringat akan surat yang
diberikan Mas Robi tadi, aku membukanya perlahan, akupun mulai membacanya.
Untuk
kekasih hatiku,
Ilya
Nafisatul Ayyah
Assalamu’alaikum cinta, saat kamu baca surat dari Mas, Mas sudah
tersenyum bahagia disini, bersama Yusuf.
Ilya, Mas tahu kalau Ilya tidak mencintai Mas. Tapi Mas pengen Ilya
tahu, kalau Mas benar-benar sayang sama Ilya.
Mas
hanya ingin Ilya mencintai Mas sebelum Mas pergi, sebelum Ilya hanya bisa
menjumpai Mas di pusara.
Asal
kamu tahu Ilya, saat air mata menetes membasahi bumi, saat itulah perasaan Mas
yang terdalam tercurah..
Baik-baik
ya Ilya, maafkan Mas tidak bisa bahagiakan Ilya.
Ilya
memang tercipta untuk Mas,untuk menemani Mas di waktu yang singkat di
bumi
ini..
Orang
yang selalu menyayangimu,
Robi Rianto
Aku kembali menangis tersedu-sedu setelah membaca surat itu,
maafkan aku Mas, sekarang aku sudah bisa mencintaimu sepenuh hatiku. Semoga
engkau bahagia disana, semoga juga Tuhan bisa mempertemukan kita di Surga-Nya
nanti. Aamiin.

Komentar
Posting Komentar